Jumat, Februari 27, 2009

FUI Serukan Partai Islam Kampanye Syariat Islam

Thursday, 26 February 2009

Sekjen Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath yang hadir dalam acara Sosialisasi Pemilu oleh Ketua KPU kepada para tokoh agama di Jakarta (26/2) menyampaikan bahwa berdasarkan Fatwa MUI umat Islam WAJIB memilih calon pemimpin/wakil rakyat yang beriman, bertaqwa, shiddiq, amanah, tabligh, fathonah, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Sebaliknya, HARAM memilih calon pemimpin/wakil rakyat yang tidak beriman, tidak bertaqwa, tidak shiddiq, tidak amanah, tidak tabligh, tidak fathonah, dan tidak memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Selesai acara itu, pria yang juga Ketua Umum Hizb Dakwah Islam (HDI) itu menegaskan bahwa dalam pemilu 2009 ini FUI mendorong partai-partai Islam dan berbasis massa Islam serta caleg-caleg muslim untuk menyesuaikan diri dengan fatwa MUI. Yakni, menyampaikan program-program kampanye syariah, seperti bubarkan Ahmadiyah, legislasi syariat Islam, dan mengamandemen UU yang tidak sesuai dengan syariah misalnya UU Sumber Daya Air, UU Migas, UU Penanaman Modal.

Bahkan FUI siap mendukung Partai-partai Islam berkoalisi sejak kampanye dengan melakukan kampanye bersama mengusung syariah sehingga dengan kampanye bersama itu Partai-partai Islam bisa meraup suara besar, syukur-syukur bisa lebih dari 50% atau paling tidak masing-masing lolos dalam parlemen treshold (2,5%).

Ketika ditanya apa hal itu memungkinkan? Khaththath menjawab, ”Kenapa tidak? Koalisi itu dilakukan atas dasar ta’aawun alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan) sambil mengutip suatu ayat al Quran”. Semoga seruan FUI ini jadi kenyataan! (lim/mj/www.suara-islam.com).

Wahiduddin (DPP HTI) :HTI Tolak Golput

Thursday, 26 February 2009

Adanya rumor santer selama ini yang mengatakan bahwa para pemimpin Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menganjurkan massanya untuk tidak memilih dalam pemilu 2009 alias golput ternyata tidak benar. Rumor tersebut dibantah salah seorang petinggi DPP-HTI, M. Wahiduddin.

Kepada Suara Islam On line yang menemuinya seusai dialog antara pimpinan Komisi Peilihan Umum (KPU) dengan para tokoh Agama di Hotel Nikko, Jakarta (26/2), Wahid menegaskan HTI tidak pernah menganjurkan massanya untuk menjadi golput, tetapi justru menganjurkan untuk memilih dalam pemilu nanti.

“HTI tidak pernah menganjurkan golput. HTI membebaskan massa dan simpatisannya untuk memilih partai manapun sesuai dengan aspirasi politiknya. HTI tidak pernah menginstruksikan anggotanya untuk memilih partai tertentu alias netral dalam pemilu,” ujar Wahid.

Keberadaan organisasi Islam internasional yang dikenal anti demokrasi alias anti parlemen ini memang selalu dicurigai sebagai biang golput. Namun kehadiran Wahidudin sebagai wakil DPP-HTI dalam sosialisasi untuk mensukseskan pemilu itu kiranya menghilangkan kecurigaan tersebut. Ini nampak dari pernyataan Anggota KPU Endang Sulastri yang mengawali sosialisasi itu sebelum Ketua KPU yang antara lain menyebut bahwa salah satu alasan golput adalah demokrasi tidak sesuai dengan ajaran agama.

Sosialisasi Pemilu kepada para tokoh agama yang pertama kali dilakukan oleh KPU itu dipimpin langsung oleh Ketua KPU Abdul Hafizh Anshari dan dihadiri oleh para tokoh antara lain Aisyah Amini (MUI), Muhammad Al Khaththath Sekjen Forum Umat Islam (FUI), Ramlan Marjoned (DDII), Agusdin (KISDI), Abdus Somad Ngile (Al Irsyad), Fikri Bareno (Al Ittihadiyah), dan Masdar Mas’udi dari PBNU. Juga hadir tokoh-tokoh agama dari PGI, Matakin, dan lain-lain. (lim/mj/www.suara-islam.com)

Jumat, Februari 20, 2009

KH. Ma'ruf Amin: "Kembalikan Kepercayaan Umat Pada Parpol Islam"

Thursday, 19 February 2009

Menghadapi pemilu 2009, mayoritas umat Islam kelihatan apatis terhadap partai Islam. Banyak faktor yang menyebakan hal tersebut. Di antaranya faktor internal partai Islam. Fenomena partai Islam yang justru bergerak meninggalkan Islam menuju ke arah moderat bahkan sekuler adalah salah satunya. Seharusnya parpol Islam menjadikan Islam sebagai dasar, sumber inspirasi dan landasan berfikir partainya.

Demikian dikatakan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin dalam acara Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) Ke-45 di Jakarta, Rabu (18/2). Menurut Kiyai Ma’ruf, saat ini umat Islam sudah harus mengembalikan kepercayaan kepada parpol Islam. Ini harus dilakukan agar parpol Islam dapat memenangkan pemilu. Pasalnya, mayoritas penduduk indonesia adalah umat Islam.

Caranya, parpol Islam harus kembali memperjuangkan Islam. Sebab berbagai problem bangsa seperti ekonomi yang kapitalistik dan politik sekuler hanya bisa diselesaikan dengan solusi Islam.

Meski demikian, Ketua Dewan Musytasar PKNU tersebut juga menyadari bahwa parpol Islam juga mengalami hambatan dan tantangan yang besar. ”Ada partai Islam yang lari. Ini bukan mengubah, tapi terubah”, cetusnya ketika menanggapi adanya parpol Islam yang makin moderat.

Selain itu juga masih melakatnya persepsi-persepsi yang salah di tengah masyarakat tentang Islam dan politik. ”Orde Baru telah menciptakan persepsi di masyarakat bahwa politik tidak ada hubungannya dengan agama. Islam yes, parpol Islam no, bahkan parpol Islam dihapus. Kiyai jangan ikut-ikutan politik. Isu politisasi agama. Agama bukan alat politik. Ini adalah persepsi-persepsi keliru di masyarakat”, papar Kiyai Ma’ruf. Persepsi inilah yang harus dihilangkan. Karena itu, ”Parpol Islam harus membangun soliditas” lanjutnya. (shodiq ramadhan/mj/www.suara-islam.com)

Kamis, Februari 19, 2009

Laporan Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) ke-45

Wednesday, 18 February 2009

Pasca di keluarkannya fatwa MUI tentang wajibnya memilih pemimpin dan kesimpang siuran fatwa tersebut di tengah-tengah masyarakat sehingga menjadi fatwa golput, Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) ke-45 menyelenggarakan diskusi publik dengan tajuk “Fatwa Golput dan Peluang Partai Islam” bertempat di Gedung Intiland Tower, Jakarta (18/2).

Acara tersebut diselenggarakan oleh Forum Umat Islam (FUI) bekerjasama dengan Hizb Dakwah Islam (HDI), RasFM 95,5 Jakarta, Majelis Taklim Wisma Darmala Sakti, dan Toko Buku Khilafah Center. Serta disiarkan langsung oleh radio RasFM 95,5 FM.

Hadir sebagai pembicara antara lain, KH. Ma’ruf Amien (Ketua MUI Pusat), H. Ahmad Sumargono (Ketua DPW PBB DKI Jakarta), Lukman Hakim Saefudin (Ketua Fraksi PPP DPR), Hanibal Wijayanta (Wartawan Senior).

Kesimpulan dari acara tersebut adalah bahwa fatwa yang di keluarkan oleh MUI jangan disalah pahami, justru harus dijadikan momen untuk konsolidasi partai-partai islam juga tetap menjaga soliditas umat untuk senantiasa memperjuangkan syari’at islam di indonesia. (mj/www.suara-islam.com)

Ahmad Sumargono: Pemilu 2009, PBB Tetap Usung syari'at Islam PDF

Wednesday, 18 February 2009

“Pemilu 2009 Partai Bulan Bintang (PBB) tetap akan mengusung agenda penerapan sya’riat islam” ungkap Ahmad Sumargono ketua DPW PBB DKI Jakarta ini saat ditemui oleh wartawan pasca acara Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) ke-45 di Gedung Intiland Tower, Jakarta(18/2).

Menurutnya PBB sudah siap menerima segala resiko perjuangan jika syariat islam yang diusung dianggap tidak menjual pada pemilu 2009. Beliau juga menyayangkan ada oknum dari partai islam yang menyatakan bahwa syari’at islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.

Syari’at islam justru seharusnya menjadi inspirasi dalam setiap pengambilan kebijakan, pengambilan keputusan dan sangat mungkin dapat menyelesaikan masalah keumatan dan kebangsaan yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia, tegasnya.

PBB juga akan tetap istiqomah dalam menjaga khitah perjuangannya sebagai partai kanan yang berbasis islam. (mj/www.suara-islam.com)

Sayyid Hasan Nasrullah: Tak Mungkin Berdamai Dengan Israel

Monday, 16 February 2009
Sekjen Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah), Sayyid Hasan Nasrullah menekankan, segala bentuk perdamaian Arab dengan Rezim Zionis Israel malah membuat rezim ini kian berani menekan umat Islam.

Sayyid Hasan kemarin (Senin 16/2) bertepatan dengan peringatan hari syuhada pejuang Hizbullah mengatakan, pengalaman masa lalu membuktikan bahwa pasca perjanjian damai dengan Israel, rezim ini malah meningkatkan aksi brutalnya terhadap umat Islam. Ditambahkannya, berdamai dengan Israel artinya kita memberikan kewenangan kepada Tel Aviv dengan imbalan rezim ini bersedia mengembalikan sedikit tanah kita yang mereka caplok.

Sekjen Hizbullah menekankan, muqamawa Lebanon berhak memiliki senjata termasuk anti-udara untuk menghadapi serangan musuh. Dalam bagian lain pidatonya, Sayyid Hasan menyatakan, "Kita tidak membutuhkan penjelasan lebih terhadap tekad kita sebelumnya untuk menuntut balas darah syahid Imad Mugniyah". Menyinggung kian dekatnya pemilu di Lebanon, Sayyid Hasan menghimbau segenap kubu untuk andil karena pemilu ini sangat menentukan masa depan Lebanon. (mj/ir/www.suara-islam.com)

Sabtu, Februari 14, 2009

SOSIALISASI FATWA GOLPUT

Thursday, 12 February 2009

Sebagaimana kita ikuti dalam berbagai berita dan talkshow di media massa, telah terjadi wacana dan perdebatan atas fatwa MUI tentang tidak memilih di dalam Pemilu alias Golput. Satu hal yang perlu kita cermati dalam berbagai wacana dan perdebatan tersebut adalah adanya pembiasan informasi atau mungkin kesalahan komunikasi sehingga umumnya publik menangkap bahwa seolah-olah MUI mengeluarkan fatwa Golput Haram secara mutlak.

Padahal, isi fatwa tersebut tidaklah demikian. Oleh karena itu, perlu sosialisasi fatwa MUI tersebut secara langsung oleh para ulama dan para muballigh dan siapa saja yang masih ingin berpegang teguh kepada agama Allah dalam menjalani kehidupannya.

Pertama, poin empat dari fatwa tersebut berbunyi: Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangan kepentingan umat Islam, hukumnya adalah wajib.

Poin ini justru tidak terekspos dengan baik di media massa sehingga tidak menjadi opini umum yang ditangkap oleh publik. Padahal poin inilah yang justru diperlukan umat sebagai petunjuk untuk memilih calon presiden (calon Imam/kepala negara) dan calon wakil rakyat.

Artinya, menurut fatwa MUI tersebut, umat Islam dalam pemilu nanti wajib memilih calon Imam dan wakil rakyat yang memiliki karakteristik: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Dalam pandangan syariat Islam, melaksanakan hukum wajib berarti pelakunya dipuji dan diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT. Sebaliknya, yang tidak melaksanakan kewajiban itu tercela, berdosa, dan akan mendapatkan balasan siksa Allah SWT. Na’udzubillahi mindzalik!

Oleh karena itu, poin mewajibkan umat Islam memilih calon Imam dan wakil rakyat dengan kriteria di atas itu tidaklah main-main. Tentu harus dengan dasar yang kuat. Dalam fatwa MUI tersebut disebutkan antara lain dasar penetapan fatwanya dengan firman Allah SWT:

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa 59).

Perintah Allah SWT mewajibkan kita taat kepada Ulil Amri dalam ayat di atas mengandung pengertian kewajiban untuk mengangkat ulil amri yang wajib ditaati itu. Sebab, kalau mengangkat ulil amri tidak wajib, maka keberadaan ulil amri itu tidak wajib pula. Dan bila ulil amri itu tidak wajib adanya, artinya bila boleh saja umat Islam tidak punya ulil amri, maka perintah Allah yang mewajibkan taat kepada ulil amri menjadi tidak bisa diamalkan. Ini tentu tidak bisa dibenarkan.

Oleh karena itu, dipastikan bahwa umat Islam wajib memilih atau mengangkat ulil amri yang bertugas dan bertanggung jawab mengurus urusan kaum muslimin. Dan ulil amri yang diangkat kaum muslimin itu wajib menerapkan hukum syariah dengan standar kebenaran Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. sehingga bilamana dalam pelaksanaan hukum Allah SWT dalam pemerintahannya ada perselisihan antara ulil amri dengan rakyat, maka diselesaikan di depan mahkamah yang akan mengatasi persoalan dengan merujuk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang ada dalam Al Quran dan Sunnah.

Ulil Amri yang wajib dipilih dan diangkat oleh kaum muslimin adalah ulil Amri yang beriman dan bertqwa, yakni yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pemerintahannya. Oleh karena itu, tepat sekali Ijtima Ulama MUI di Padang Panjang mencantumkan -sebagai dasar penetapan fatwa- pernyataan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar pada saat pengangkatan mereka sebagai Khalifah yang berkuasa atas kaum muslimin.

Khalifah Abu Bakar r.a. berkata: “Wahai sekalian manusia, jika aku dalam kebaikan maka bantulah aku, dan jika aku buruk maka ingatkanlah aku... taatilah aku selagi aku menyuruh kalian taat kepada Allah, dan jika memerintahkan kemaksiatan maka jangan taati aku”. Pidato Khalifah Umar r.a.:“Barangsiapa diantara kalian melihat aku dalam ketidaklurusan, maka luruskanlah aku…”.

Kedua, butir lima dari fatwa MUI tersebut adalah: Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram.

Butir ini juga tidak terkomunikasi dengan baik melalui media massa. Seolah-olah di media massa diopinikan bahwa tidak memilih alias golput secara mutlak adalah haram. Padahal yang diharamkan dalam butir ini adalah bila tidak memilih sama sekali alias golput padahal ada calon yang memenuhi syarat-syarat nomor empat yang sudah diterangkan di atas. Lebih dari itu, justru yang diharamkan bagi setiap muslim adalah memilih calon Imam dan wakil rakyat yang tidak memenuhi kriteria dalam poin empat di atas.

Jadi dalam pemilu legislatif maupun pilpres nanti setiap muslim yang dirinya masih punya iman dan hatinya terikat dengan ajaran agama Islam yang dianutnya HARUS HATI-HATI JANGAN SAMPAI MEMILIH CAPRES DAN CALEG yang tidak beriman, tidak bertakwa, tidak jujur (siddiq), tidak terpercaya (amanah), tidak aktif dan tidak aspiratif (tabligh), tidak mempunyai kemampuan (fathonah), dan tidak memperjuangan kepentingan umat Islam.

Kiranya tepat sekali dasar penetapan poin ini merujuk kepada hadits Nabi saw:

“Dari Abdullah bin Amr bin ‘Auf al-Muzani, dari ayahnya, dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda:“Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”. (HR At-Tirmidzi).

Artinya, umat Islam harus waspada terhadap caleg-caleg maupun capres-capres yang disinyalir akan melahirkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Yakni, caleg-caleg sekuler yang abai bahkan menentang diformalisasikannya syariat Allah SWT sebagai konstitusi, undang-undang, dan hukum yang berlaku di negeri ini.

Dengan demikian tegaslah bahwa Fatwa MUI tentang memilih dalam Pemilu itu adalah : (1) WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam. (2) HARAM BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: tidak beriman, tidak bertakwa, tidak jujur (siddiq), tidak terpercaya (amanah), tidak aktif dan tidak aspiratif (tabligh), tidak mempunyai kemampuan (fathonah), dan tidak memperjuangan kepentingan umat Islam.

Fatwa tersebut selain mengikat umat Islam dalam memilih, juga mengikat para capres dan caleg muslim agar menyesuaikan dirinya dengan kriteria tersebut bila ingin dipilih oleh oleh umat Islam.

Terakhir, kami memberikan peringatan kepada kaum muslimin dan diri kami sendiri, dalam urusan memilih dan mengangkat pemimpin ini, janganlah kita termasuk orang yang berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin lantaran salah pilih atau memilih secara asal-asalan, atau memilih karena dorongan hawa nafsu dan tergoda bujuk rayu dengan sedikit urusan dunia. Renungkanlah sabda baginda Rasulullah saw.:

“Barangsiapa memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang lain yang lebih pantas untuk dijadikan pemimpin dan lebih faham terhadap kitab Allah dan sunnah RasulNya, maka ia telah menghianati Allah, RasulNya, dan semua orang beriman”. (HR. At-Thabrani). (mj/www.suara-islam.com)

Senin, Februari 09, 2009

KH. Cholil Ridwan : Istisyhâd Bukan Bunuh Diri


Thursday, 05 February 2009
Pengasuh: KH. A. Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat)

Assalamu’alaikum wr wb Menghadapi agresi Israel sejak 27 Desember lalu hingga kini, wakil ketua biro politik Hamas Musa Abu Marzuq menyatakan aksi bom bunuh diri menjadi bagian dari perlawanan muslim Palestina (Koran Tempo, 2/1/09). Bukankah bunuh diri dilarang agama Islam, Pak Kiyai? Tolong jelaskan. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb

Nanang, Padang HP. 0813637xxxxx

Waalaikum salam wr wb Sdr Nanang, aksi yang dilakukan anggota ninja yang tertawan musuh dengan menelan pil racun atau menggigit lidahnya sendiri sampai mati, disepakati para fuqaha sebagai bentuk bunuh diri (intihâr). Tindakan ini haram hukumnya dilakukan seorang muslim, sebagaimana wasiat Nabi Saw:

‘’Pernah ada kasus menimpa orang sebelum kalian; ada seseorang yang terluka, lalu mengambil sebilah pisau, kemudian dia gunakan untuk melukai tubuhnya hingga darahnya pun tidak mau berhenti, sampai akhirnya dia pun mati. Allah berfirman: Hamba-Ku telah bergegas menemui-Ku karena ulahnya, maka Aku pun mengharamkan surga untuknya’’ (HR Bukhari).

Beda halnya dengan pejuang Palestina yang mengenakan rompi penuh bom lalu meledakkan diri di tengah kerumunan tentara Israel. Aksi ini disebut istisyhâd. Yaitu aksi menghadapi musuh dengan ‘’mempertaruhkan’’ diri hingga terbunuh.

Istisyhâd dibenarkan, dengan catatan sasarannya bukan kaum Muslim, atau tempat berkumpulnya kebanyakan orang Muslim seperti pasar, masjid, dan sebagainya, meskipun di situ ada musuh. Sebab, meninggalnya satu nyawa seorang Muslim masih lebih ringan bagi Allah ketimbang hilangnya seluruh dunia. Demikian wasiat Nabi saw.

Selain itu, istisyhâd tidak boleh menargetkan ahli dzimmah (Yahudi, Nasrani, atau orang musyrik yang hidup dalam naungan Negara Islam). Nabi Saw berpesan: ‘’Siapa saja yang menganiaya ahli dzimmah, maka sungguh akulah yang akan menjadi penuntutnya.

’’ Bahkan meskipun ‘’tidak rasional’’ menurut kalkulasi militer, istisyhâd tetap dinilai sebagai jihad. Al-Qurthubi (al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, II/364) mengutip Muhammad al-Hasan yang berkata, “Kalaupun ada seorang (mujahid) berperang menghadapi 1000 musuh kaum musyrik, sementara dia seorang diri, itu tidak masalah jika memang dia berambisi untuk meraih kemenangan atau menjadi tekanan bagi pihak musuh.

” Beliau melanjutkan, “Jika aksi itu ada manfaatnya bagi kaum Muslim, lalu dirinya binasa demi kemuliaan agama Allah, serta menjatuhkan mental kaum kafir, maka hal itu merupakan kedudukan yang mulia.

” Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan, dalam sebuah pasukan Islam yang menyerbu musuh terdapat pemuda Ghulam. Ia begitu piawai berperang, sehingga musuh-musuhnya kesulitan membunuhnya meskipun banyak peluang buat mereka. Si pemuda kemudian menunjukkan pada musuh, bagaimana cara efektif untuk membunuh dirinya.

Benar saja, ketika mendapat kesempatan untuk itu, musuh akhirnya berhasil menewaskan pemuda itu. Dia syahid, dan pengorbanannya membuat musuh yang terkesima berbondong-bondong masuk Islam dengan mengatakan, “Kami beriman kepada Rabb (Tuhan)-nya pemuda ini.”

Di zaman Rasulullah, ada kisah kepahlawanan Anas bin Nadhar dalam peristiwa Perang Uhud. Saat itu Anas mengamuk sendirian melabrak musuh, setelah mendengar kabar burung bahwa Rasulullah wafat. Anas gugur, dengan jasad penuh luka sehingga sulit dikenali kecuali oleh sudara perempuannya. Kepahlawanan beliau ini diukir dalam al-Quran:

Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Lalu di antara mereka ada yang gugur dan ada (pula) di antara mereka yang menunggu-nunggu.” (QS al-Ahzab [33]: 23).

Dalam Perang Yamamah, Bara bin Malik diusung kawan-kawannya ke atas tameng yang disangga dengan ujung-ujung tombak. Lalu tubuhnya dilemparkan hingga meloncati benteng musuh. Di dalam benteng dia dibantai lawan, namun sebelum itu aksinya mampu menjebol pintu gerbang benteng. Tidak seorangpun sahabat menyalahkan keenkadan Bara bin Malik. Kisah ini dimuat dalam Sunan Al-Baihaqi, As-Sayru Bab At-Tabarru’ Bit-Ta’rudhi Lilqatli (9/44), tafsir Al-Qurthubi (2/364), Asaddul Ghaabah (1/206), dan Tarikh Thabari.

Hal serupa dilakukan Salamah bin Al-’Akwa, Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah ketika menghadapi pasukan Uyainah bin Hishn. Keberanian mereka menerobos musuh membuat pasukan Islam akhirnya memenangi pertempuran. Mereka syahid. Rasulullah memuji mereka dengan mengatakan, “Pasukan infantri terbaik hari ini adalah Salamah” (HR Bukhari-Muslim).

Mengomentari kisah ini, Ibnu Nuhas berkata: ‘’Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.Tidak mengapa dilakukan jikan dia ikhlas melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi Saw tidak mencela, Sahabat ra tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan’’ (Masyari’ul Asywaq 1/540).

Masih banyak sahabat yang mengorbankan diri serupa itu, misalnya Hisyam bin Amar Al-Anshari, Abu Hadrad Al-Aslami dan dua rekannya, Abdullah bin Hanzhalah Al-Ghusail, dan lain-lain.

Aksi syahid, sebenarnya juga sudah biasa dilakukan rakyat Indonesia dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Di Surabaya, anak buah Bung Tomo juga gagah berani memanjat gedung hotel untuk memerosotkan bendera Belanda dan menggantikannya dengan Merah Putih. Padahal, saat itu konvoi pasukan udara Sekutu meraung-raung di langit Surabaya dan mengebomi warga setempat.

Sedangkan rakyat Aceh sangat menghayati Hikayat Perang Sabil, yang berisi ajakan dan anjuran berperang melawan pasukan penjajah kaphe (kafir). (mj/www.suara-islam.com)

Erma Pawitasari, M. Ed : KURIKULUM NASIONAL vs KURIKULUM AS

Thursday, 05 February 2009

Diasuh oleh: Erma Pawitasari, M. Ed

Assalamu’alaikum wr wb,
Saya senang sekali membaca Suara Islam yang menampilkan profil Bu Erma karena saya menemukan muslimah yang jarang ada padahal kehadirannya sangat diperlukan umat Islam.

Jika berkenan, saya ingin tahu pendekatan seperti apa yang Ibu gunakan dalam mendidik siswa-siswi Ibu di sekolah.

Saya juga penasaran tentang pendidikan yang Ibu ambil di Boston. Setelah Ibu menyelesaikan kuliah di sana, kemudian mengajar di sini (tanah air), apa kira-kira pendapat ibu mengenai kurikulum pendidikan di tanah air kita ini?

Saya juga sering berpikir soal kurikulum yang sebagiannya tidak jelas targetnya, diulang-ulang di setiap jenjang pendidikan dan tidak tepat sasaran untuk anak-anak.

Semoga Allah senantiasa membantu Bu Erma menjalankan aktivitas sehari-hari dan memajukan pendidikan di Indonesia. Amien.

Wassalamu’alaikum wr wb,
Rina, Depok

Wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakaatuh,

Terima kasih atas doa Bu Rina. Saya juga senang berkenalan dengan Bu Rina.

Menjawab pertanyaan Ibu yang pertama, saya menggunakan pendekatan personal. Salah satu cara saya adalah berkomunikasi via jurnal. Di setiap pertemuan, anak-anak menyerahkan jurnal berisi apapun yang ingin mereka ceritakan. Beberapa manfaatnya:saya bisa menyelami kebutuhan dan perasaan mereka, mereka memiliki tempat curhat, mereka bisa mengasah Bahasa Inggrisnya dan berlatih mengeluarkan pikiran melalui tulisan.

Memang pelaksanaannya cukup berat ya, Bu, karena saya harus membaca dan menulis balik kepada mereka tetapi alhamdulillah hasilnya cukup baik. Murid-murid saya meminta nasehat tentang keluarganya, pacarnya, teman-temannya dan saya jawab berdasarkan Islam. Respon mereka cukup positif; mereka makin terbuka dan perilakunya pun membaik.

Mengenai kurikulum sekolah, ada beberapa perbedaan antara AS dengan Indonesia. Saya sempat mengajar di AS mulai tingkat SD hingga SMA, mulai guru pendamping hingga guru kelas. Salah satu perbedaan yang saya amati terletak pada jumlah pelajaran. Untuk tingkat SD, penekanan diberikan kepada matematika dan bahasa Inggris. Porsi sains dan ilmu sosial cukup sedikit. Tidak ada pelajaran moral. Wow, tentu buruk ya jika anak-anak tidak belajar moral.

Percaya atau tidak, dalam batasan moral yang umum, anak-anak Amerika bisa dibilang lebih beradab. Mereka tidak sembarangan dalam meludah, membuang sampah, maupun kencing. Ketika kami baru pulang ke Indonesia, anak saya shok berat melihat orang-orang Indonesia seenaknya buang sampah, meludah, dan kencing di pinggir jalan.

Nah, kok bisa ya sementara tidak ada pelajaran moral? Jawabannya sederhana sekali. Buku bahasanya sangat bermutu dan ideologis. Di dalamnya, siswa belajar tentang ilmu sosial, sains, moral, sejarah, tata kota, tata negara, bahkan tata dunia. Semuanya disajikan berdasarkan nilai ideologi mereka. Penekanannya bukan “spelling” atau “grammar” tetapi pembentukan pola pikir.

Kalau saya bandingkan dengan isi buku bahasa kita, waduh… saya prihatin sekali! Miskin ilmu dan miskin karakter. Bacaannya sebatas “Ibu Budi pergi ke pasar.” Bagus kalau kemudian bercerita tentang pasar tertentu, letaknya, sejarahnya, kehidupan para pedagangnya yang berjuang untuk hidup secara Islam di tengah himpitan ekonomi. Dengan begitu, di samping belajar berbahasa, anak-anak kita juga mulai terbentuk pola pikir Islami. Tetapi ini kan tidak. Buku malah membahas suara kucing meong-meong, suara anjing guk-guk-guk, prang bunyi gelas pecah (padahal kalau jatuhnya di karpet mungkin “duk” lebih tepat ya).

Padahal informasi ini bisa diberikan dalam bentuk cerita berhikmah Islam. Misalnya cerita tentang Ihsan yang tetangganya memelihara anjing. Bagaimana Ihsan harus bersikap sebagai muslim, bagaimana dia mencuci diri ketika terjilat anjing tetangga. Konfliknya tentu bisa dibuat lebih seru seperti Ihsan menuduh anjing tersebut telah mencuri sepatunya, dsb. Jadi, di samping belajar bahasa yang mengasyikkan, anak-anak juga belajar nilai-nilai Islam. Tidak heran kan kalau ada yang mengatakan bahwa orang Amerika itu lebih islami (tentu dalam konteks perilaku tertentu). Mereka belajar moral setiap hari (dalam pelajaran Bahasa), sedang kita?

Akibat pembatasan ilmu yang terlalu banyak dalam kurikulum Indonesia, maka muatan masing-masing pelajaran menjadi terbatas. Walhasil, terjadilah apa yang Bu Rina sebutkan sebagai “materinya diulang-ulang.” Berhubung tempatnya terbatas, saya harus berhenti di sini dulu, ya Bu. Semoga bisa kita gali lebih lanjut dalam diskusi-diskusi berikutnya. (mj/www.suara-islam.com)

Rabu, Januari 28, 2009

KH. M Al Khaththath : Haramkah Golput?

Monday, 26 January 2009

Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III di Padangpanjang, Sumatera Barat, yang berlangsung sejak Jumat (24/1) hingga Senin (26/1) telah mengeluarkan fatwa haramnya golput dalam pemilu. Menurut Sekjen MUI Ichwan Sam, memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib. ”Jadi memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram,” tegas Ichwan.

Bila kita menyoroti amal dengan hukum syara’, yakni melihat hukumnya dengan timbangan halal haram, maka dalam hal ini harus dilihat dengan kaca mata hukum syara’ semata, tidak boleh menggunakan pertimbangan-pertimbangan lain. Sebab, hak menghalalkan dan mengharamkan benda (asyaa’) atau perbuatan (af’aal) hanyalah hak Allah, bukan yang lain!. Dalam kasus permintaan fatwa tentang golput, apakah hukumnya halal atau haram, maka permintaan itu boleh. Tetapi memberikan pengarahan apalagi tekanan agar golput itu diharamkan, jelas ini tidak bisa dibenarkan. Oleh karena itu, bagaimanakah sesungguhnya memilih wakil rakyat dalam timbangan syara?

Hukum syar’i dalam ta’rif para ulama adalah khithab syaa’ri al amuta’alliq biaf’alil ibaad, yang artinya: seruan pembuat syara’ (Allah SWT) yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Maka aktivitas memilih wakil rakyat bisa dikategorikan kepada aqad wakalah. Yakni ijab qabul antara rakyat pemilih (muwakkiil) dengan wakil rakyat (wakiil) yang sighat-nya adalah mewakilkan suatu amal kepada wakil rakyat (wakiil).

Dalam wakalah ini perlu diperhatikan amal apa yang akan dilakukan oleh wakil rakyat yang mewakili rakyat yang memilihnya?. Sebab hukum asal dari suatu wakalah adalah mubah. Namun amal dari wakalah itu menentukan halal haramnya suatu wakalah. Bilamana seseorang mewakilkan suatu amal pencurian kepada orang lain, maka wakalah seperti ini hukumnya haram. Sebaliknya, seseorang yang mewakilkan kepada orang lain untuk mengambil gajinya adalah halal.

Dalam masalah pemilihan wakil rakyat di kursi parlemen, amal yang diwakalahkan adalah amal membuat undang-undang (taqnin) dan melakukan pengawasan kepada penguasa (muhasabah). Dalam hal ini perlu dijelaskan kepada rakyat tentang status hukum syara’ dari amal wakil rakyat itu sehingga rakyat bisa memberikan wakalah kepada mereka dengan kesadaran hukum Islam.

Dalam pandangan Islam, membuat undang-undang (taqnin) yang diberlakukan kepada rakyat dalam proses pemerintahan hanya bisa dibenarkan bilamana hukum yang diundangkan itu adalah semata-mata hukum syariat Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah. Pembuatan UU dengan rujukan selain dari hukum syara’ adalah haram hukumnya. Sebab tindakan itu bisa terkategorikan melanggar hak Allah SWT dalam membuat hukum.

Allah SWT berfirman:

menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang Sebenarnya dan dia pemberi Keputusan yang paling baik”. (QS. AL An’am 57).

Juga Firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. an-Nahl [16]: 116)

Sehingga dalam hal pembuatan perundangan, baik wakil rakyat maupun pemerintah, dibatasi hanya wajib mengadopsi dari hukum syara’ maupun hasil-hasil ijtihad yang digali (istinbath) dari dalil-dalil syar’i. Membuat perundangan dengan merujuk kepada system hukum dan perundangan selain Islam (baik dari system Kapitalis Barat maupun system Sosialis Komunis) bagi kaum muslimin haram hukumnya.

Sedangkan amal mengawasi pemerintah (muhasabatul hukkam) dengan standar hukum syara’ adalah hak sekaligus merupakan kewajiban rakyat yang bisa dilaksanakan langsung atau melalui wakil rakyat.

Dengan demikian bilamana rakyat memilih wakil rakyat yang akan melaksanakan amal mengadopsi hukum-hukum syara’ sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah dengan pedoman halal-haram dalam pandangan Islam, maka memilih wakil yang bisa dipercaya untuk mengemban tugas-tugas tersebut hukumnya halal.

Sebaliknya, memilih wakil rakyat yang akan mengadopsi hukum-hukum selain Islam sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah tidak dengan timbangan syara’, apalagi secara nyata menolak penerapan syariah oleh negara dan bertekad melestarikan system negara dan pemerintahan sekuler, maka memilih wakil rakyat seperti ini jelas hukumnya haram bagi setiap muslim. Na’udzubillahi mindzalik!

Kini jelaslah halal-haramnya hukum memilih wakil rakyat dalam pemilu. Sekarang tinggal kita lihat bagaimana calon-calon wakil rakyat, apakah masuk dalam criteria halal dipilih atau justru haram dipilih. Ibarat akad nikah, sebelum diijab oleh calon mertua, seorang lelaki harus melamar terlebih dahulu. Calon mantu yang tidak layak tentu tidak akan diserahi (ijab) dalam majelis akad nikah.

Oleh karena itu, kampanye para calon wakil rakyat di daerah pemilihan masing-masing harus dilihat secara teliti oleh rakyat sehingga rakyat bisa memilih wakilnya sesuai criteria hukum syariat Islam yang telah diterangkan di atas, bukan sekedar criteria versi MUI yang masih sangat umum tersebut. Sebagai waratsatul anbiya, hendaknya para ulama tidak perlu sungkan dan ragu berbenturan dengan penguasa atau kekuatan politik manapun dalam menerangkan system pemerintahan menurut Islam secara gamblang agar menjadi pedoman rakyat dan penguasa yang mayoritas muslim ini.

Memilih wakil rakyat yang bisa dipercaya (terbukti dalam program-program kampanye syariahnya dalam berbagai bidang kehidupan) akan memperjuangkan adopsi syariah secara kaffah menjadi UU dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara adalah harga mati buat setiap umat Islam. Namun bila tidak ada yang layak, umat harus menahan diri dari memilih yang haram, dan harus berjuang untuk mengangkat mereka yang layak sekalipun tidak tercatat sebagai calon dalam permainan yang ada! Baarakallah lii walakum (MAK)

Sabtu, Januari 24, 2009

Kiyai Abdul Rasyid Pimpin Langsung Aksi FUI

Kiyai Abdul Rasyid Pimpin Langsung Aksi FUI PDF Cetak E-mail
Friday, 23 January 2009

ImageUlama kharismatis yang juga Pimpinan Perguruan As Syafiiyah, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii memimpin langsung Aksi Umat Untuk Solidaritas Palestina, Jumat (23/1). Bersama dengan Sekjen FUI, KH. Muhammad Al Khaththath dan sejumlah tokoh ormas lainnya, putra ulama besar KH. Abdullah Syafii ini berjalan memimpin ribuan massa longmarch dari bundaran HI ke depan Istana Negara, Jakarta.

Dengan diiringi oleh massa yang memadati ruas jalan MH Thamrin hingga Medan Merdeka Barat, anggota dewan penasehat FUI tersebut mengumandangkan tahlil dan takbir.

”Penderitaan umat Islam di Palestina tak terperikan lagi. Desingan bom dan peluru yang menyebabkan tetesan hujan darah dan serpihan daging yang terkoyak dan terbakar terhampar di antara puing-puing bangunan mesjid, sekolah, rumah sakit. Mereka adalah saudara-saudara kita. Karenanya sebagai umat Islam, kita ingin menunjukkan rasa solidaritas dan simpati terhadap perjuangan muslim Palestina” ungkap Kiyai Rasyid pada wartawan.

Dalam orasinya, Kiyai Rasyid mengajak kepada umat Islam untuk bersatu dalam mengalahkan zionist Israel. ”Ya Allah tolonglah hamba-hambamu yang menderita dan didzalimi. Ya Allah hancurkanlah Zionist Yahudi dan antek-anteknya”, doa Kiyai Rosyid yang diamini oleh seluruh peserta aksi.

Sementara itu, menurut koordinator lapangan aksi, Abu Saad, aksi ini merupakan wujud nyata dari persatuan umat Islam Indonesia. ”Inilah salah satu bentuk persatuan umat. Kita melakukan aksi dalam rangka hari kemarahan umat sedunia untuk solidaritas Palestina”, ungkapnya.

Sejumlah tokoh Islam yang hadir dan memberikan orasi dalam aksi itu antara lain Ustadz Muhammad Ihsan Tanjung (tokoh tarbiyah), Ust. Ferry Nur (KISPA), Ust. Fikri Bareno (Sekjen Al Ittihadiyah), KH. Nasir Zein (Pesantren ar Rafah Bogor), Habib Selon (Laskar Aswaja), dan lain-lain.

Sementara ribuan massa itu berasal dari berbagai ormas Islam seperti Perguruan As Syafiiyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Hidayatullah, GARIS, GPMI, MER-C, Laskar Aswaja, Missi Islam, Anshorut Tauhid, MMI, Pesantren Husnayain, Majelis Tafsir al Quran (MTA), LPPD Khairu Ummah, Koalisi Anti Utang, Majlis taklim, jamaah masjid, siswa sekolah, dan lain-lain. (shodiq/mj/www.suara-islam.com)

FUI SERU SBY UNTUK SELAMATKAN PALESTINA

FUI SERU SBY UNTUK SELAMATKAN PALESTINA PDF Cetak E-mail
Friday, 23 January 2009

ImageForum Umat Islam (FUI) menyerukan kepada presiden SBY agar mengambil peranan yang lebih besar dan mengambil inisiatif terhadap negara-negara OKI untuk memberikan pembelaan yang nyata dan mencukupi terhadap tanah Islam Palestina dan rakyatnya yang muslim.

Demikian inti seruan FUI dalam Aksi Umat Untuk Solidaritas Palestina, Jum’at (23/1). Aksi yang diigelar dalam rangka hari kemarahan umat sedunia itu diikuti oleh ribuan ormas dari puluhan ormas Islam dan masyarakat. Tak pelak aksi tersebut sempat beberapa jam melumpuhkan kawasan Thamrin-sudirman dan Medan Merdeka Barat.

”FUI mengingatkan agar saudara Presiden mempelopori negara-negara OKI untuk menyeret dan mengadili Ehud Olmert dan Tzipi Livni selaku Perdana Menteri dan Menlu Israel, sebagai penjahat perang abad ini” ungkap Sekjen FUI, Muhammad Al Khaththath dalam pernyataan sikap yang dibacakannya di depan Istana Negara, Jakarta.

Selain itu, FUI juga menyeru SBY agar menyatukan dunia Islam dalam kerjasama ekonomi, politik dan militer untuk menyiapkan kekuatan yang mencukupi guna mengusir Israel dari Palestina dan seluruh wilayah dunia Islam. ”Hanya dengan kesatuan umat Islam, Israel dapat dikalahkan”, ungkap Al Khaththath.

Untuk pemerintah Indonesia, FUI mendesak agar membatalkan rencana pembelian senjata ke Israel. ”Boikot produk-produk Israel dan antek-anteknya dengan melakukan gerakan swadesi, yakni memenuhi kebutuhan sendiri dari kalangan dunia Islam dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sendiri oleh dunia Islam” seru Ketua Umum Hizb Dakwah Islam itu. (shodiq/mj/www.suara-islam.com)

FUI: Jangan Lupakan Palestina

FUI: Jangan Lupakan Palestina PDF Cetak E-mail
Friday, 23 January 2009

ImageUmat Islam jangan terkecoh. Gencatan senjata yang diumumkan sepihak oleh zionist Israel dan pelantikan Obama menjadi presiden AS jangan sampai memalingkan perhatian umat Islam dari kasus Palestina.

Demikian salah satu pesan Forum Umat Islam (FUI) ketika menggelar Aksi Solidaritas Untuk Palestina, Jumat (23/1). FUI mengingatkan agar umat Islam tidak berpaling dari peristiwa besar yang telah menghancurkan umat Islam di Gaza, Palestina. itu

“Pembantaian yang yang dilakukan oleh tentara Yahudi Israel kepada penduduk Gaza yang telah merenggut 1300 nyawa orang dan melukai 5300 orang lainnya adalah tindakan biadab yang tidak termaafkan” ungkap sekjen FUI, M. Al Khaththath.

Lebih lanjut, ketua umum Hizb Dakwah Islam itu menambahkan, “Oleh karena itu, gencatan senjata sepihak tidak boleh membuat kita melupakan kejahatan para penjahat perang Israel yang telah membombardir sasaran-sasaran sipil dan menggunakan senjata kimia. Sebab darah-darah yang tertumpah dan luka-luka yang diderita oleh kaum muslimin di Gaza belum kering”.

FUI menyerukan agar Perdana Menteri dan Menlu Israel, Ehud Olmert dan Tzipi Livni, diseret ke Mahkamah Internasional untuk diadili sebagai penjahat perang. (shodiq/mj/www.suara-islam.com)

Lima Tuntutan Umat Hancurkan Israel (LUMAT ISRAEL)

Lima Tuntutan Umat Hancurkan Israel (LUMAT ISRAEL) PDF Cetak E-mail
Thursday, 22 January 2009

Image

SURAT TERBUKA FUI KEPADA PRESIDEN SBY UNTUK SELAMATKAN PALESTINA

Kepada Yth.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Di Jakarta

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Saudara dalam taufiq dan hidayah dari Allah SWT dalam menjalankan tugas sehari-hari memimpin rakyat yang mayoritas muslim ini.

Gencatan senjata sepihak yang diumumkan oleh Zionist Israel menjelang pelantikan Obama sebagai Presiden Amerika Serikat telah mengalihkan perhatian publik dari kasus Palestina. Padahal pembantaian yang yang dilakukan oleh tentara Yahudi Israel kepada penduduk Gaza yang telah merenggut 1300 nyawa orang dan melukai 5300 orang lainnya adalah tindakan biadab yang tidak termaafkan.

Darah umat Islam tidak dapat dinilai murah. Menurut Rasulullah SAW, hancurnya dunia dan isinya adalah lebih ringan dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim. Beliau bersabda:Sungguh hancurnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim".(HR. Imam Nasa’i)

Oleh karena itu, gencatan senjata sepihak tidak boleh membuat kita melupakan kejahatan para penjahat perang Israel yang telah membombardir sasaran-sasaran sipil dan menggunakan senjata kimia. Sebab darah-darah yang tertumpah dan luka-luka yang diderita oleh kaum muslimin di Gaza belum kering.

Berkaitan dengan hal di atas, Forum Umat Islam (FUI) mengingatkan kepada Saudara Presiden agar mengambil peranan yang lebih besar sebagai kepala negara muslim terbesar dan mengambil inisiatif terhadap negara-negara OKI untuk memberikan pembelaan yang nyata dan mencukupi terhadap tanah Islam Palestina dan rakyatnya yang muslim. Untuk itu FUI mengingatkan agar Saudara Presiden mempelopori negara-negara OKI untuk:

1. Menyeret dan mengadili Ehud Olmert (PM Israel) dan Tzipi Livni (Menlu Israel) sebagai penjahat perang abad ini.

2. Menyatukan dunia Islam dalam kerjasama ekonomi, politik dan militer untuk menyiapkan kekuatan yang mencukupi guna mengusir Israel dari Palestina dan seluruh wilayah dunia Islam.

3. Memboikot produk-produk Israel dan antek-anteknya dengan melakukan gerakan swadesi, yakni memenuhi kebutuhan sendiri dari kalangan dunia Islam dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sendiri oleh dunia Islam.

4. Membatalkan pembelian senjata ke Israel dan membeli kepada negara dunia islam atau negara yang netral serta mengembangkan industri senjata dalam negeri.

5. Membantu rakyat Gaza dan Palestina untuk memerdekakan diri dari penjajahan agresor Israel.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan semoga menjadi saksi di hari kiamat nanti.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jakarta, 26 Muharram 1430 H/23 Januari 2009

Atas Nama Umat Islam Indonesia

FORUM UMAT ISLAM

Sekretaris Jenderal

KH. Muhammad Al Khaththath

Kamis, Januari 22, 2009

Sekjen FUI: Urusan Jihad Bisa Di Bawah Deplu (Dari FKSK ke 44)

Image Wednesday, 21 January 2009

Umat Islam membuka Tahun Baru 1430 Hijriyah dengan penuh luka, duka dan kesedihan yang begitu mendalam. Bermula dari 27 Desember 2008 atau 4 hari menjelang 2009, militer Israel menyerang dan membombardir wilayah Jalur Gaza dengan dalih membalas serangan Hamas. Tidak tanggung-tanggung, anak-anak dan wanita menjadi korban, ratusan warga tidak berdosa pun tewas akibat muntahan senjata dari pesawat-pesawat tempur Israel.

Dalam politik Islam, masalah Palestina ini masuk dalam tatanan politik luar negeri, dalam ilmu politik dan konstelasi politik dunia akan ada istilah negara nomor satu atau sering kita sebut sebagai negara adidaya.. Hal ini diungkapkan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath dalam Acara Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) Ke-44 di Intiland Tower, Jakarta, Rabu (21/1).

“Dalam realitas dunia hari ini, negara adididaya atau negara nomor satu disandang oleh Amerika Serikat (AS),” kata Al-Khaththath. Kesempatan ini oleh AS justru dijadikan sebagai instrumen imperialis untuk menguasai negara-negara Islam dan negara miskin lainnya. Sementara itu dalam Islam sendiri telah ada sistem yang terbukti mampu mengatasi permasalahan global yaitu Khilafah Islamiyah.

Ia mengungkapkan bahwa Khilafah Islamiyah adalah satu negara muslim yang diperuntukkan untuk seluruh dunia. Dalam sistem Khilafah Islamiyah ini akan memberikan rahmat dan kesempatan pada wilayah-wilayahnya lain untuk bisa menjalani kehidupan secara baik, tidak akan ada penjajahan seperti yang dilakukan zionis Israel yang berkonspirasi dengan AS seperti pada saat ini.

“Jika departemen luar negeri yang ada pada saat ini, ada di bawah kepemimpinan Khilafah Islamiyah maka dapat dipastikan visi dan misinya adalah da’wah wal jihad,” tegasnya.

Jadi amatlah wajar jika pelaksanaan jihad yang ingin dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia menjadi amat sulit, karena departeman luar negeri ataupun Pemerintah Indonesia secara umum tidak memiliki sistem ataupun aturan tentang jihad yang diyakini oleh Umat Islam sebagai penyempurna ibadah.

“Bahkan dalam pandangan Islam angkatan bersenjata atau militer berada dibawah komando departemen luar negeri,” pungkasnya. [mj/af/www.suara-islam.com]

Rabu, Januari 21, 2009

H. Chep Hernawan (GARIS) : Berjuang Untuk Tegaknya Syari’ah

Dalam berbagai kesempatan aksi unjuk rasa, lelaki tegap yang lahir pada tanggal 12 Mei 1955 ini kerap memimpin anak buahnya di lapangan secara langsung. Anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan H. Endang Syafi’i, seorang aktivis Islam di Cianjur dan Hj Siti Zubaedah ini selalu memotivasi para aktivis GARIS untuk terus berjuang menegakkan Syari’at Islam. “Karena hanya dengan Syari’at Islam, masalah-masalah yang melanda Indonesia dapat diselesaikan”, ngkap pemilik perusahaan plastik terbesar di Jawa Barat itu.
Semangat jihad pria yang sempat mengenyam pendidikan di beberapa pesantren di Cianjur itu juga sangat tinggi. Bahkan beliau berharap Indonesia tidak hanya memiliki taman makam pahlawan, tapi juga mempunyai taman makam mujahid. Harapan ini dibuktikan beberapa saat lalu dengan menyiapkan lahan seluas 2 hektar untuk pemakaman mujahid trio bom bali, Amrozi dkk.
“Kami telah menyiapkan lahan seluas 1 hektar di Cianjur sebagai tempat pemakaman para mujahid, sebagai taman makam pahlawan. Siapapun yang berjuang untuk membela Islam dan mati sebagai syuhada, kami siap memakamkannya di Cianjur,” jelasnya.
Ketika ditanya kenapa dekat dengan Amrozi dkk, beliau menjawab ada kesamaan visi yaitu “menghancurkan musuh-musuh Islam, komunisme” ungkapnya. Karenanya, dia menghimbau kepada umat Islam. “Siapa saja yang punya kekayaan dan intelektual, mari berjuang bersama demi tegaknya Syari’at Islam”. (Halim/Shodiq, Suara Islam)

Selasa, Januari 20, 2009

Undangan Terbuka : Aksi Sejuta Umat FUI (Solidaritas Untuk Palestina)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sesuai Hasil Musyawarah FUI di Masjid As Syafi'iyah Insya Allah FUI akan mengadakan Aksi Sejuta Umat untuk Solidaritas Palestina

Pelaksanaan :
Jum'at, 23 Januari 2009
Ba'da Sholat Jum'at (pukul 13.00 WIB) di Bunderan HI longmarch Ke Istana Negara.

Harap Seluruh Komponen Umat menggerakkan jamaahnya agar secara serentak khotib dan jamah jum'at langsung turun (baik berjalan kaki atau berkendaraan) menuju ke Bunderan HI dengan Takbir Allahu Akbar 3 X.

Informasi :
Ust. Abu Saad : 08111777824, Shodiq 081218933633

Syukron Atas Perhatiannya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Muhammad Al Khaththath (Sekjen FUI)

SHORT COURSE : Studi Dasar Islam Intensif 2009

MEMBENTUK KADER DAKWAH BERKEPRIBADIAN ISLAM

Pelaksanaan :
Kelas Ikhwan : Setiap Sabtu
Kelas Akhwat : Setiap Jum'at
Pukul : 09.00 - 15.00 WIB

Materi akan disampaikan selama 4 kali pertemuan dalam sebulan dan dimulai awal Februari 2009

Materi Dasar :
1. Mengokohkan Aqidah Islam
2. Membangun Syakhsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam)
3. Fiqh Dakwah Islam
4. Sifat-sifat Pengemban Dakwah

Pengajar :
1. KH. M. Al Khaththath (Ketua Umum HDI)
2. HM. Mursalin (Sekjen HDI)
3. M. Abu Saad (DPP HDI)
4. Faroji Al Rabbani, MA (DPP HDI)
5. Anwar Islam, Lc (DPP HDI)

Tempat :
Gedung Anakida Lt 7 Ruang 702
Jl. Prof. Soepomo No. 27 Tebet
Jakarta Selatan

Kontribusi Peserta :
Umum : Rp. 40.000,-
Pelajar/Mahasiswa : Rp. 20.000,-

Informasi Pendaftaran :
M. Shodiq Ramadhan
081 218 933 633
shodiq_ramadhan@yahoo.co.id

Penyelenggara :
DPP HDI (Hizb Dakwah Islam)
Memperjuangkan Syari'at Islam Dan Khilafah Bersama Umat

Israel Malu Tak Bisa Taklukkan Gaza

Image Monday, 19 January 2009

Pertempuran hebat selama tiga minggu di Jalur Gaza merupakan bukti pertolongan Allah terhadap para pejuang Muslim. Melalui perang ini Allah membuktikan kepada seluruh dunia bahwa Islam adalah agama yang kuat. Demikian dinyatakan Mursyid Thariqoh Naqsyabandiyah Damaskus Syeikh Rojab bin Subhi al-Dieb dalam kunjungannya ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Senin (19/1).

Dalam pertemuan yang digelar di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya no. 164 Jakarta Pusat ini, Muallif (pengarang) lebih dari 28 kitab ini mengungkapkan, Mujahidin di Jalur Gaza adalah para pejuang Islam yang tangguh. Mereka memperlihatkan kepada seluruh dunia bahwa umat Islam adalah para patriot yang sangat mencintai Allah dan tanah air mereka hingga titik darah penghabisan.

Lebih lanjut, ulama Syiria kelahiran tahun 1931 ini menyatakan, perang di Jalur Gaza semakin membuktikan kepada dunia, Israel tidak dapat memenuhi semua keinginan mereka. Israel tidak dapat membuktikan, bahwa mereka dapat berbuat semaunya saja.

"Jalur Gaza yang hanya sepanjang 60 kilometer pun tidak dapat dikuasai, meski mereka telah mengerahkan seluruh kekuatan dan kecanggihan mereka. Justru wilayah kecil tersebut semakin membuat malu wajah Israel di hadapan dunia," papar ulama dengan jam terbang internasional ini.

Doktor dibidang dakwah Islam ini juga mengemukakan, semestinya umat Islam seluruh dunia dapat mengambil hikmah dari peristiwa heroik di Jalur Gaza tersebut. Umat Islam harus bersatu dan melupakan perbedaan-perbedaan kecil demi menyatukan cita-cita kejayaan Islam. [af/nu/www.suara-islam.com]

Minggu, Januari 18, 2009

Tim MER-C RI Masuk Gaza

Image Sunday, 18 January 2009

Relawan "Medical Rescue Commite" (MER-C) Indonesia, menjadi tim pertama asal Indonesia yang akan masuk ke Jalur Gaza di Palestina.

Tim yang terdiri atas tiga dokter dan seorang yang bertugas mendukung keperluan logistik itu masuk ke gerbang perbatasan Kota Rafah, sekitar pukul 15.20 waktu setempat (20.20 WIB), Sabtu (17/1).

Para relawan dapat masuk setelah mendapat rekomendasi KBRI Kairo, Bulan Sabit Merah Mesir dan Mendagri Mesir- adalah Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis, SpOT, dr Indragiri, SpA, dr Syarbini Abdul Muradz dan Moh Mursalin.

Sedangkan satu anggota relawan lainnya Ir Faried Thalib (logistik), yang juga sudah mendapat izin masuk, tetap tinggal di Kairo dan El-Arish, karena harus mengkoordinasikan bantuan yang akan dikirim masa mendatang, seperti mobil ambulans dan obat-obatan.

Setelah melalui prosedur pemeriksaan dokumen yang dibutuhkan, empat relawan MER-C Indonesia itu dipastikan menyebrang masuk ke Rafah Palestina untuk menuju Jalur Gaza.

Pada pukul 17.10 waktu setempat (22.10 WIB) dengan menggunakan bus "Gaza City" dengan nomor 08-2822616, tim relawan itu dipastikan sudah menyebrang dari wilayah Mesir dan masuk ke Palestina.

Rencananya relawan dari MER-C akan bertugas dirumah sakit as-syifa di jalur gaza, Palestina.

Jose Rizal Jurnalis menyebut tim pertama itu sebagai "tim bedah", dan akan bertugas menamgani warga Palestina yang banyak mengalami luka dalam dan patah tulang. "Tim ini akan mencari informasi kebutuhan apa yang paling dibutuhkan," katanya. (mj/www.suara-islam.com)

Rabu, Januari 14, 2009

Palestina Bantu kemerdekaan Indonesia

Image Tuesday, 13 January 2009

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap negara tersebut. Hari ini ketika Palestina diserang, mengapa kita (bangsa Indonesia) ikut sibuk?

Sebagai orang Indonesia, sejarah menjelaskan bahwa kita berhutang dukungan untuk Palestina dan negara arab lain.

Dari berbagai sumber yang diperoleh, Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc.

Kenapa Kita Memikirkan Palestina?

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia: pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.

Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan. Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI.

Seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia”. Setelah itu dukungan mengalir, di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah.

Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Shalat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dalam pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.

Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah putih? tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.

Sekarang bagaimana rasannya saat melihat bendera kita di kibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh menunjukan rasa solidaritasnya, karena mereka peduli Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan: “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Tentu saja, motivasi yang kita bangun tidak hanya dari aspek historis, namun ini kita dapat ambil sebagai sebuah pelajaran untuk mengingatkan kembali betapa palestina pernah melakukan hal yang sama terhadap Indonesia. (jk/dak/sm/berbagai sumber / www.suara-islam.com)

Jumat, Januari 09, 2009

Munarman: Waspadai Akal Bulus Agen Zionist Di Indonesia

Wednesday, 07 January 2009

ImageUntuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel, seorang tokoh Jaringan Islam Liberal, Abdul Moqsith Ghazali, mengusulkan agar dibuka hubungan diplomatik dengan negara Israel. Hal tersebut diungkapkan oleh Moqsith dalam acara talk show di sebuah stasiun televisi swasta, Rabu malam (7/12). Menurutnya, hal itu diperlukan agar terjadi dialog untuk menemukan solusi permasalahan di sana. “Perdamaian masih mungkin untuk dilakukan. Bagaimanapun juga mereka (Yahudi Israel) adalah manusia yang punya akal dan hati nurani. Mereka tidak akan rela melihat manusia dibantai begitu rupa ” dosen Universitas Paramadina itu beralasan.

Kontan saja, pernyataan nyleneh Moqhsith menuai kecaman. Munarman, S.H, Panglima Komando Laskar Islam (KLI) menyatakan bahwa usulan itu tidak lebih merupakan akal bulus agen Zionist di Indonesia agar Zionist Israel bisa bebas berkeliaran menginfiltrasi dan merusak umat Islam Indonesia.

“Usulan-usulan tersebut gencar diwacanakan oleh agen-agen Zionist yang tergabung dalam JIL dan komunitas binaan Zionist lainnya” ungkap Munarman kepada Suara Islam, Kamis (8/12).

Untuk Indonesia, secara konstitusi usulan itu sangat aneh. Sebab menurut konstitusi negeri ini, yang sering didewa-dewakan oleh kalangan JIL, penjajahan sebagaimana yang dilakukan oleh Zionist Israel harus dihapuskan dari muka bumi. ”Ini artinya usulan tersebut adalah akal bulus semata untuk kepentingan Zionist melakukan dominasi dan hegemoni lebih dalam terhadap umat Islam Indonesia”, jelasnya.

Munarman mengingatkan, sejak awal berdirinya gerakan Zionist Internasional dan negara Israel, mereka tidak pernah menggunakan bahasa dialog. ”Tentu kita masih ingat bahwa Zionist Israel membentuk dan menggunakan pasukan teroris Hagana untuk mencaplok Palestina. Bagaimana bisa Moqsith dan gerombolannya mengusulkan dialog dengan Zionist?” tanya Direktur An Nashr Institute itu.

Bahkan, mantan Ketua YLBHI itu mengingatkan, ”Hanya orang sakit jiwa dan dungu yang percaya Zionist Israel bisa diajak dialog. Awas hati-hati, virus dungu itu menular”, ingatnya. [shodiq/www.suara-islam.com]

Kamis, Januari 08, 2009

Selamatkan Palestina

Wednesday, 07 January 2009

ImageSetelah membombardir Gaza dengan ratusan pesawat F16 yang meluluh lantakkan ribuan rumah, masjid, dan rumah sakit, serta menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan orang, Israel pada 4 Januari 2009 mulai melakukan serangan darat. Ribuan personil tentara Yahudi dan tank-tank mereka telah menyerbu Gaza City dan sekitarnya. Pertempuran pun berkecamuk. Korban-korban dari kedua belah pihak berjatuhan, terlebih rakyat sipil. Kecamuk perang darat jelas menimbulkan korban yang lebih banyak dan sekaligus akan menentukan pihak yang menang akan menguasai pihak yang kalah.

Kecamuk Gaza memanggil seluruh umat Islam di seluruh dunia ini, wabil khusus orang-orang yang tinggal di wilayah-wilayah terdekat seperti Mesir, Libanon, Syria, Yordan, Arab Saudi, dan negeri-negeri di Timur Tengah. Juga wabil khusus mereka-mereka yang punya kekuatan persenjataan dan punya wewenang untuk menggerakkan tentara dan alat-alat militer.

Kecamuk perang melawan Yahudi Israel di Gaza telah memanggil kaum muslimin untuk menolong saudara-saudara mereka yang diserang oleh Yahudi karena semata-mata mereka muslim. Mengingatkan kita semua dengan firman Allah SWT: ”(akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan”. (QS. Al Anfal [08]: 72).

Kebrutalan tentara Israel dan kezaliman mereka di gaza mengingatkan kita kepada hadits Nabi saw. : ”Setiap muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak boleh dia menzaliminya dan menyerahkannya kepada musuh...”. (Sahih AL Bukhari Juz 8/309).

Apakah layak kaum muslim yang jumlahnya 1,5 milyar di seluruh dunia ini membiarkan saudara-saudara muslim mereka di Gaza dilumat Yahudi Israel?

Jangan sampai Gaza menyusul daerah-daerah lain yang dicengkeram Israel. Dan jangan sampai seluruh tanah Palestina hilang dari peta dunia karena telah berganti menjadi Israel sebagaimana Andalusia telah berganti menjadi Spanyol!

Jeritan umat Islam di Gaza mengingatkan kita kepada hadits Nabi: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan saling merasakan di antara mereka laksana satu tubuh, jika sebagian anggota tubuh mengeluh, maka seluruh tubuh pun mengeluh dengan demam dan tidak bisa tidur” (Kitab Syu’abul Iman Al Baihaqi, Juz 23/24).

Kebrutalan para pemimpin Israel yang telah memerintahkan pasukannya melakukan serangan biadab dengan memamerkan kecanggihan mesin-mesin perang mereka, mengingatkan kita kepada kesombongan nenek moyang mereka di Madinah, Bani Qainuqa, yang telah diperingatkan oleh baginda Rasulullah pasca pelecehan mereka terhadap seorang wanita muslimah dan pembunuhan seorang muslim di pasar Bani Qainuqa.

Mereka menolak ajakan Rasul masuk Islam walau itu sudah dibenarkan di dalam kitab suci mereka. Mereka berkata kepada Rasulullah saw : ”Hai Muhammad, sesungguhnya jika engkau berhadapan dengan kami, maka engkau akan menghadapi kaum yang tak terkalahkan!”.

Akhirnya Rasulullah saw. memutuskan mengepung perkampungan Bani Qainuqa selama 15 hari lalu mengusir mereka dari kota Madinah.

Oleh karena itu, yang paling diperlukan hari ini bukanlah seruan kata-kata. Lihatlah, seruan gencatan senjata dari Presiden Perancis yang datang langsung ke Palestina saja tidak digubris oleh pemerintah Israel. Apalagi seruan-seruan dari dunia Islam yang terkesan basa-basi.

Palestina hari ini perlu keputusan tegas dari seorang pemimpin umat Islam yang disegani dunia Islam dan memiliki otoritas menggerakkan tentara-tentara reguler di negeri-negeri Islam seperti baginda Rasulullah saw. yang telah menggerakkan tentaranya untuk mengepung perkampungan Bani Qainuqa hingga bangsa Yahudi itu menyerah dan terusir dari kota Madinah. Ya, tentara dengan persenjataan lengkap yang ada di masing-masing negara di dunia Islam itulah yang perlu digerakkan oleh seorang kepala negara yang diakui kewibawaan dan keputusannya oleh masing-masing kepala negara di dunia Islam. Ya kita perlu seorang kepala negara yang punya otoritas penuh seperti Khalifah Mu’tashim Billah yang mampu menjaga izzah umat, yang telah mengirim pasukan Islam yang besar sehingga menaklukkan kota Amuria, menewaskan 30 ribu tentara kafir dan menawan 30 ribu lainnya.

Sudah saatnya seluruh umat Islam, wabil khusus para tentara regulernya yang memiliki kekuatan dan ketrampilan berperang untuk melaksanakan jihad fisabilillah, menjual diri dan hartanya kepada Allah SWT untuk menggapai surga dan ridlo-Nya. Dia SWT berfirman: Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. AT Taubah 111).

Dengan jihad yang dikobarkan oleh salah seorang kepala negara dari dunia Islam yang kemudian diikuti oleh negara-negara lainnya, dan dengan dibukanya perbatasan Mesir, Syria, Jordan, dan Libanon, insyaallah akan terjadi gerakan puluhan atau ratusan ribu mujahidin dari seluruh dunia. Mereka akan berperang mengamalkan firman Allah SWT di atas.

Bukankah Rasulullah saw. bersabda: ”Tidak akan terjadi kiamat hingga kalian (umat Islam) memerangi kaum Yahudi hingga batu-batu pun berkata: ’hai muslim ini di belakangku ada seorang Yahudi, bunuhlah!” (Sahih Bukhari Juz 10/71).

Mudah-mudahan dengan mobilisasi jihad yang dilakukan oleh salah seorang kepala negara muslim dan diikuti oleh seluruh kepala negara dunia Islam, Yahudi bisa diusir dari seluruh wilayah Palestina, dan kaum muslim Palestina bisa diselamatkan. Wallahu khairun haafizha wahuwa arhamur raahimiin! (MAK)

Selasa, Januari 06, 2009

Pernyataan Sikap FUI Mengutuk Serangan Israel Terhadap Kaum Muslimin di Jalur Gaza, Palestina

Wednesday, 31 December 2008

Seperti telah luas diberitakan, pada hari Sabtu (27/12) tentara Israel dengan menggunakan lebih dari 100 pesawat tempur berjenis F16, telah melakukan serangan udara terhadap kaum muslimin di jalur Gaza, Palestina.

Serangan brutal ini, menurut Direktur Umum Ambulans dan Emergensi di Gaza, Muawiyah Husnin, mengakibatkan jumlah korban mencapai 230 orang meninggal dunia dan sekitar 750 orang lainnya terluka, 200 di antaranya terluka serius. Korban terdiri dari kalangan sipil, wanita dan anak-anak. Bersamaan dengan itu, aliran listrik ke Jalur Gaza terputus, rumah sakit-rumah sakit mengalami kelangkaan obat-obatan, masyarakat kehabisan bahan bakar dan kelangkaan suplai makanan.

Menyikapi hal tersebut, Forum Umat Islam (FUI) menyatakan:

1. Mengutuk keras tindakan penyerangan yang dilakukan oleh Zionis Israel yang menewaskan ratusan orang kaum muslimin dan melukai ratusan orang lainnya yang tidak berdosa.

2. Menyerukan kepada seluruh pemerintah negeri-negeri Islam agar mengerahkan pasukannya ke Palestina untuk berjihad membalas serangan Israel dan mengusir Israel dari bumi Palestina seluruhnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu.. (QS. Al Baqarah [02]: 190-191).

3. Meminta Pemerintah Republik Indonesia agar segera mengirimkan TNI yang muslim ke jalur Gaza untuk membantu Umat Islam di sana dalam menghadapi serangan Zionis Israel.

4. Menyerukan kepada kaum muslimin untuk di seluruh dunia untuk bahu membahu menolong saudara-saudara mereka di Palestina, sebagaimana firman Allah SWT:
”(akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan”. (QS. Al Anfal [08]: 72)


Jakarta, 30 Dzulhijjah 1429 H/28 Desember 2008 M
Atas Nama Umat Islam Indonesia
Forum Umat Islam (FUI)

Sekretaris Jenderal,


KH. Muhammad Al Khaththath



FORUM UMAT ISLAM :
Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Syarikat Islam (SI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), YPI Al Azhar, Front Pembela Islam (FPI), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Anshorut Tauhid, Majelis Adz Zikra, MER-C, PP Daarut Tauhid, Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Muslimah Peduli Umat (MPU), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Hidayatullah, Al Washliyyah, KAHMI, PERTI, IKADI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Missi Islam, Harakah Dakwah Islamiyah Indonesia (HADII), Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Gerakan Reformasi Islam (GARIS), LPPD Khairu Ummah, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Laskar Aswaja, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

Ormas Islam Kecam Serangan Berdarah Israel Ke Palestina

Thursday, 01 January 2009

Menyusul serangan berdarah israel atas palestina yang menewaskan 225 orang lebih dan 750 orang luka-luka pada (27/12/08), maka FUI bersama ormas islam yang lain menggelar konfrensi pers ”Mengutuk Serangan Berdarah israel”, acara tersebut berlangsung di masjid Al-Barkah Kantor Perguruan As-Syafi’iyah, Tebet, Jakarta Selatan (28/12/08).

Konfrensi pers tersebut dihadiri oleh Anggota FUI seperti MER-C, KISPA, As-Syafi’iyah, IKADI, FPI, Hizb Dakwah Islam, Jamaah AnshoruTauhid (JAT), GPMI, FBR dll. Dalam kesempatan tersebut, Jose Rizal Ketua Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengatakan bahwa timnya dalam minggu-minggu ini berencana akan masuk ke Gaza membawa obat-obatan dan alat operasi melalui negara Mesir. Selain itu juga perwakilan dari Komite Solideritas Untuk Palestina (KISPA) mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan lobi-lobi kepada OKI, PBB, maupun kepada lembaga internasional lainnya.

Sebagai tindak lanjut dari konfrensi pers itu, dalam waktu dekat FUI bersama dengan ormas-ormas islam yang lain akan menggalang dukungan masa mengecam serangan israel terhadap Palestina di Jalur Gaza. (Jk/www.suara-islam.com)

Dauroh "The Inspiring Night"


Dauroh bertajuk “The Inspiring Night” dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1430 H berlangsung pada 27-28 Des 2008 bertempat di Pemandian Alam Umbulan, yang merupakan salah satu tempat wisata favorit masyarakat Pasuruan.Acara yang diadakan oleh FUI (Forum Umat Islam), Buletin Ad Dakwah, Tabloid Suara Islam dan didukung penuh oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kota Pasuruan mendapat sambutan yang antusias dari peserta yang di dominsai oleh pelajar dan mahasiswa.

Ust.Rahmat yang juga Ketua DPD II HDI (Hizb Dakwah Islam) Kota/Kabupaten Pasuruan menuturkan bahwa acara dauroh ini akan ditindak lanjuti dengan pembinaan yang lebih intensif lagi melalui kajian rutin untuk memperdalam pemahaman tentang bahaya pergaulan bebas serta solusi sesuai syari’at Islam. Ust Rahmat juga berterima kasih kepada MUI Kota Pasuruan yang telah mendukung penuh atas terselenggaranya acara ini.

MUI Kota Pasuruan melalui ketuanya, Kyai Dhofir menilai kegiatan ini sangat positif sekali ditengah maraknya kasus-kasus kenakalan remaja dan pergaulan bebas yang sangat menghawatirkan yang sering terjadi khususnya di Kota Pasuruan akhir-akhir ini. Beliau juga menuturkan sudah saatnya masyarakat Pasuruan menjadikan syari’at Islam sebagai tolak ukur dalam perbuatannya, sehingga kasus-kasus yang mencoreng nama Pasuruan sebagai kota santri tidak terjadi lagi. (YWK)